Sejarah Berdirinya Kota Bandung

Tulisan ini untuk melengkapi tulisan sebelumnya yaitu “ Sejarah Kota Bandung”.  Tulisan ini saya ramu dari berbagai sumber baik cetak maupun internet. Perlu saya sampaikan bahwa  tulisan ini sekedar untuk menambah wawasan khususnya bagi pemula yang ingin mengetahui sepintas sejarah berdirinya Kota Bandung.                                    Asal kata ”bandung” ada yang berpendapat berasal dari kata ”bandeng”. Dalam Bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan nampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Dari kata bandeng ini berubah bunyi menjadi ” bandung”.                                                                           Asal kata bandung ini nampaknya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen ( + 60.000 Gn Meletustahun ? yang lalu). Akibatnya daerah antara Padalarang sampai Cicalengka sepanjang + 30 Km, dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang  + 50 Km terendam air menjadi danau besar yang kemudian disebut Danau Bandung Purba.  Menurut penelitian arkeologi danau ini mulai surut secara beangsur-angsur pada masa neolitikum + 8000 – 7000 SM.

Secara historis, nama Bandung mulai dikenal sejak berdirinya pemerintahan Kabupaten Bandung sekitar abad ke 17. Sebelum Kabupaten Bandung berdiri wilayah ini disebut ”Tatar Ukur” yang wilayahnya mencakup sebagian besar Jawa Barat di bawah dominasi kerajaan Pajajaran.  Sekitar Tahun 1579/1580 Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan Islam di daerah Jawa Barat. Setelah Pajajaran runtuh maka Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang yang diperintah oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608).

Tahun 1620 Kerajaan Sumedang Larang menjadi wilayah kekuasaan Mataram di bawah Sultan Agung.  Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur ( Bupati Wedana Priangan) untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Dipati Ukur gagal melaksanakan tugas ini dan akhirnya ia melakukan pemberontakan terhadap Sultan Agung.

Tahun 1632 Sultan Agung dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur setelah mendapat bantuan dari 3 orang dari Priangan.  Atas jasa-jasanya turut menumpas pemberontakan Dipati Ukur maka ketiga orang tersebut  oleh Sultan Agung diangkat menjadi Kepala Daerah, yaitu: Ki Astamanggala diangkat menjadi Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya menjadi Bupati Parakanmuncang, dan Ngabehi Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura. Ketiga orang ini dilantik berdasarkan Piagam Sultan Agung pada ping songo tahun Alif bulan Muharan  atau  bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 20 April Tahun 1641.

Kabupaten Bandung berada di bawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677 karena setelah itu Bandung dibawah kekuasaan Kompeni Belanda (1677 – 1799). Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC tahun 1799 , Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (Dayeuh Kolot).  Setelah kekuasaan Kompeni berakhir, kekuasaan di Nusantara diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jendralnya yang pertama yaitu  Herman Willem Daendels (1808-1811).

Menurut naskah Sajarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah utara Kota Bandung.  Salah satu alasan kepindahannya yaitu wilayah Karapyak sering dilanda banjir Citarum. Semula Bupati tinggal

Makam R.A Wiranata Kusumah II pendiri Bandung,di Jalan Dalem Kaum Bandung

Makam R.A Wiranata Kusumah II pendiri Bandung,di Jalan Dalem Kaum Bandung

di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir. Ketika Daendels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung di Jl. Asia afrika sekarang, Bupati Bandungpun berada di sana. Daendels beserta Bupati berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan kantor Dinas P.U Jl. AA sekarang). Di tempat itu Daendels menancapkan tongkatnya sambil berkata:”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun ). Sebagai tindak lanjut ucapannya Daendels mengeluarkan surat tertanggal 25 Mei 1810 yang isinya memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos.

Pindahnya Kabupaten Bandung ke Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (SK) tanggal 25 September 1810. Maka tanggal ini secara yuridis formal ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Tahun 1906 kota Bandung sebagai ibukota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonom.

Komplek Situs makam Para Bupati Bandung Tempo Doeloe dan Makam Ibu Rd. Dewi Sartika(Jl. Karang Anyar Bandung)

Komplek Situs makam Para Bupati Bandung Tempo Doeloe dan Makam Ibu Rd. Dewi Sartika

Maka sejak itu pemerintahan Kabupaten Bandung terpisah dengan pemerintahan Gemeente Bandung (Kotapraja Bandung). Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung dipimpin oleh Asisten Residen Priangan selaku Ketua Dewan Kota, tetapi sejak tahun 1933 Gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).

  • Di sini dimakamkan para Bupati Bandung tempo doeloe dan Ibu Rd. Dewi Sartika                   Makam para Bupati Bandung tempo doeloe Keturunan RA. Wiranata Kusumah II dan Ibu Rd. Dewi Sartika(Jl. Karang Anyar Bandung).  Menurut berbagai sumber pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat dibawah pimpinan Bupati R.A Wiranatakusumah II. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa Bupati R.A Wiranatakusumah II adalah pendiri ( the founding father) Kota Bandung.                                                                                         Berikut adalah orang-orang yang pernah menjabat Bupati Bandung .
  1. Tumenggung Wiraangunangun (1641 – 1681 ) :  angkatan Mataram.
  2. Tumenggung Nyili (1681), tidak lama karena  mengikuti  Sultan Banten.
  3. Tumenggung Ardikusumah (1681 – 1704)  :  angkatan Kompeni.
  4.  Tumenggung Anggadireja I    (1704 – 1747)
  5.  Tumenggung Anggadireja II         (1747_1763)
  6. R. Anggadireja III dengan gelar R.A Wiranatakusumah I (1763 – 1794)
  7.  R.A Wiranatakusumah II ( 1794 – 1829) :  kolonial  Belanda.
  8.   8. R.A Wiranatakusumah III (1829 – 1846)
  9.  R.A Wiranatakusumah IV (1846 – 1874)
  10.  R. Adipati Kusumahdilaga (1874-18930
  11. RAA. Martanegara (1893           –1918)

Gemente ( Kotapraja) Bandung

  1. E.A Maurenbrecher (exofficio)  (1906 – 1907)
  2.  R.E Krijboom (exofficio)              (1907 – 1908)
  3.  J.A. Van Der Ent (exofficio)        (1909 – 1910)
  4.  J.J. Verwijk (ecofficio)                  (1910 – 1912)
  5.  C.C.B Van Vlenier dan                   (1912 – 1913)
  6.  B.Van  Bijveld (exofficio)              (1913 – 1920)
  7.  B. Coops                                              (1920 – 1921)
  8.  S.A Reitsma                                       (1921 – 1928)
  9.  B. Coops                                                (1928 – 1934)
  10.  Ir. J.E.A. Van Volsogen Kuhr     (1934 – 1936)
  11.  Mr. J.M. Wesselink                        (1936 – 1942)
  12.  N. Beets                                               (1942 – 1945)
  13.  R.A Atmadinata                              (1945 – 1946)
  14.  R. Siamsurizal
  15.  Ir. Ukar Bratakusumah               (1946 – 1949)
  16.  R. Enoch                                            (1949 – 1956)
  17. R. Priatna Kusumah                      (1956 – 1966)
  18. R. Didi Jukardi                                (1966 – 1968)
  19. Hidayat Sukarmadijaya               (1968 – 1971)
  20. R. Otje Djundjunan                         (1971 – 1976)
  21.  H. Ucu Junaedi                               (1976 – 1978)
  22.  R. Husein Wangsaatmaja             (1978 – 1983)
  23.  H. Ateng Wahyudi                          (1983 – 1993)
  24.  Wahyu Hamijaya                             (1993 – 1998)
  25.  Aa Tarmana                                      (1998 – 2003)
  26. H. Dada Rosada                         (2003 – sekarang)                                          Sumber: A. Sobana Hardjasaputra, Web site Kota Bandung , web site Kabupaten Bandung serta   sumber lainnya.

BANDUNG CAR FREE DAY

Car Friday Dago. Polisi menjaga kemanan dan ketertiban di perempatan Cikapayang-Dago

Warga Bandung sedikit berbangga diri karena 4 jam dalam seminggu memiliki Jalan Dago dan Jalan Merdeka tanpa harus takut bersaing dengan kendaraan bermotor. Ya, karena setiap hari Minggu Jalan Dago dari mulai Simpang Dago sampai Cikapayang dimulai puku 06.00 s.d 10.00 bebas dari kendaraan bermotor dan hanya diperuntukan bagi masyarakat untuk berolah raga, berkreasi seni, jalan-jalan atau berwisata. Demikian juga Jalan Merdeka dari mulai simpang R.E Martadinata s.d depan SD Merdeka menjadi kawasan bebas kendaraan bermotor.

Dari Jembatan SMAN 1 BandungKesempatan ini dimanfaatkan masyarakat Kota Bandung selain untuk berolah raga dan wisata, juga sebagai tempat pertunjukan berbagai kesenian baik modern maupun tradisional.

Goyang Dombret-Olah Raga Sambil rekreasi...Tarikk Maaaangng...!!!Khusus di jalan merdeka tepatnya di depan BIP setiap hari Minggu pagi berkumpul komunitas sepeda ontel.Sayangnya Car Free Day di Jalan Dago sudah mulai banyak dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan, sehingga dikhawatirkan akan berubah menjadi tempat transaksi jual beli seperti kawasan Gasibu. Hal ini tidak boleh terjadi sebab kalau dibiarkan maka akan menjadi tidak nyaman lagi untuk berwisata dan berolahraga.

BRAGA KU SAYANG BRAGA KU MALANG

Braga Kini

Kawasan Jalan Braga termasuk salah satu aikon Kota Bandung karena nilai historisnya yang melegenda yakni dikenal sebagai Parijs Van Java. Namun seiring waktu daya tarik Braga  semakin pudar hingga wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung enggan  mengunjungi jalan Braga. Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemkot namun apalah daya, maksud Pemkot Bandung untuk mengembalikan citra Braga sebagai kawasan wisata malah justru ”memperburuk citra”.

Jalan Braga amburadul tak pernah istirahat dari perbaikan sejak diganti batu andesit

Maksudnya mempercantik Braga dengan mengganti aspal dengan batuan andesit malah  justru semakin rusak. Mungkin sekarang Braga ini satu-satunya jalan kota di dunia yang mengeluarkan bunyi berisik jika dilewati kendaraan. Bunyi berisik “pletak-pletuk” berasal dari batuan andesit yang goyang dan tidak rata serta akan semakin berisik jika kendaraan padat. Praktis sejak selesai diganti dengan batuan andesit jalan ini tidak pernah istirahat dari perbaikan. Saya jadi berpikir jarak jalan ini dengan ITB yang menghasilkan para insinyur sipil hanya sejengkal tapi mengapa tidak bisa membuat jalan menjadi bagus? Atau bisa jadi jalan ini akan menjadi terkenal jika kita promosikan sebagai  satu-satunya jalan yang bisa bermain musik pletak-pletuk-gdubrak-pletak-pletuk-gdubrak!! Asyik kan?

curug cimahi

Hari itu Sabtu 9 Januari 2010 pukul 07.00 ketika kami bertiga, yaitu aku dan kedua anak laki-lakiku Faisal dan Zaka berangkat menuju Curug Cimahi. Kami menggunakan kendaraan spedamotor karena lebih praktis untuk menghindari kemacetan. Maklum saja Bandung selalu macet saat akhir minggu oleh wisatawan khususnya dari ibukota Jakarta.

Dari daerah Bandung Selatan kami menyusuri Jalan Buah batu menuju ke Jalan Setiabudhi (UPI) kemudian masuk ke Jalan Sersan Bajuri. Rute jalan ini kami ambil karena di sepanjang jalan Sersan bajuri atau lebih dikenal dengan nama Cihideung pemandangannya sangat indah. Sepanjang jalan ini merupakan sentra bursa berbagai jenis tanaman hias lengkap dengan latar belakang pegunugan yang sungguh menawan. Maka tak heran bila Cihideung ini termasuk daerah tujuan wisata.

Pukul 09.30 kami sampai di tujuan. Tersedia tempat parkir untuk roda dua dan empat dijamin aman. Setelah membeli tiket 3000 perak per orang kami mulai menuruni jalan menukik yang berkelok-kelok. Jalannya cukup bagus dan aman dengan anak tangga yang tersusun dari batu. Konon jumlah anak tangga ini sebanyak 520 buah…wow! lumayan melelahkan tapi menyehatkan.

Indah nian ciptaanMU ya Allah...

Rasa lelah kami terobati setelah menyaksikan keindahan air terjun “Curug Cimahi”. Tinggi air terjun aku perkirakan sekitar 100 meter. Walaupun debit airnya tidak besar namun cukup membuat aku terpesona dengan keindahan dan beningnya air. Lingkungan sekitarnya pun masih nampak asri belum terjamah oleh tangan-tangan jahil.

Kedua anakku menikmati dinginnya air dan pijatan air terjun

Keindahan dan beningnya air sangat menggoda kedua anakku untuk segera turun mandi di dinginnya air sambil merasakan “pijitan” air terjun yang menimpa punggung dan kepala….Ya…mereka kelihatan asyik sekali.

Asyik bermain air...

Hari itu pengunjung didominasi oleh kalangan remaja. Mungkin untuk mengakhiri masa liburan sekolah. Fasilitas di sini termasuk lengkap; ada warung yang menyediakan mie rebus, kopi hangat, jagung bakar, ketan bakar dan aneka soft drink. Juga kamar mandi/WC dan mushola. Selamat berwisata.

Renungan disisa usia

Kutipan ini kutulis sebagai bahan renungan khusus untuk diriku sendiri disisa usiaku dalam membesarkan dan mendidik anak-anak. Namun siapa tahu kawan-kawan juga dapat mengambil hikmah pelajaran. Mudah-mudahan kutipan ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua.

ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPAN
( by Dorothy Law Nolte)

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

RENUNGAN BAGI ORANG TUA
( by Kahlil Gibran, 1883-1931)

Dan seorang wanita yang mendekap anaknya berkata:
Bicaralah pada kami perihal anak-anak
Maka orang bijak itu pun bicara:
Puteramu bukanlah puteramu
Mereka adalah putera- puteri kehidupan , yang mendambakan hidup mereka sendiri
Mereka datang melalui kamu, tapi tidak dari kamu
Dan sungguhpun bersamamu, mereka bukanlah milikmu
Engkau dapat memberikan kasih sayangmu, tetapi tidak pendirianmu
sebab mereka memiliki pendirian sendir
Engkau dapat memberikan tempat pijak bagi raganya, tapi tidak jiwanya
lantaran jiwa mereka ada di masa datang
yang tak bisa engkau capai sekalipun dalam mimpi
Engkau boleh mengikuti alam mereka,
tapi jangan mengharap mereka dapat mengikuti alammu,
sebab hidup tidaklah surut ke belakang
Tidak pula terlambat di masa lalu
Engkau adalah busur darimana meluncur anak panah
Kehidupan putera-puterimu melesat ke masa depan

Jalur Khusus Sepeda di Kota Bandung, perlukah?

Dalam acara Green Fun Bike yang digagas Kompas Jawa barat Minggu 6 Desember 2009, Wali Kota Bandung menyatakan bahwa pembangunan jalur khusus sepeda di Kota Bandung menjadi program prioritas dalam rangka pengembangan kota berwawasan lingkungan.

Sumber: Kompas

Pernyataan Wali kota ini tentu saja mestinya disambut baik masyarakat, khususnya mereka yang biasa atau senang bersepeda, karena selama ini masyarakat yang menggunakan sepeda di jalan Kota Bandung seringkali harus berpacu dengan maut. Kota Bandung yang makin padat dan macet sepertinya tidak memberi ruang gerak bagi masyarakat pencinta sepeda atau masyarakat yang hanya memiliki alat transportasi sepeda.

Jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat ternyata tidak berbanding lurus dengan penambahan ruas jalan. Akibatnya, selain macet juga menyebabkan tingkat polusi yang makin tidak terkendali. Hal ini diperparah oleh rendahnya tingkat disiplin pemakai jalan. Maka wajar jika berkendaraan di jalananan Kota Bandung menjadi semakin tidak nyaman.

Mudah-mudahan pernyataan Wali Kota Bandung ini bukan sekedar retorika yang tidak ada realisasinya. Kesungguhan Pemkot Bandung dalam pembuatan jalur khusus sepeda ini sangat dinantikan masyarakat. Jika Pemkot tidak serius melaksanakan program ini maka hasilnya akan mubazir, misalnya membuat jalur sepeda tetapi banyak rintangan tiang listrik atau telpon atau pepohonan. Jelas jalur seperti ini hanya akan membuat pengguna sepeda semakin tidak nyaman.

Ayo..kita dukung gerakan “Back to Bike” bukan hanya sekedar seremonial dan retorika belaka.

47 % Remaja Bandung melakukan sex sebelum nikah

Ini berita yang mengejutkan . Betapa tidak menurut Kepala BKKBN Pusat Dr.dr. Sugiri Syarief,M.P.A yang disampaikan di Bandung pada 6 Desember 2009, bahwa 47 % remaja di Kota Bandung mengaku melakukan hubungan sex sebelum menikah. Ini artinya dari 100 orang remaja 47 orang sudah tidak perawan lagi atau tidak perjaka lagi.
Sementara di Jabotabek remaja yang melakukan sex pra nikah persentasenya lebih tinggi, yakni mencapai 51 %, Surabaya 54 % dan Medan 52 %. Yang lebih mengejutkan lagi di DIY dari 1.660 orang mahasiswi 97,05 % sudah hilang keperwanannya saat kuliah. Dari jumlah itu 98 orang mahasiswi mengaku pernah melakukan aborsi. Wah..rupanya gaya hidup liberal sudah menjangkiti mental remaja kota. Kalau seperti ini kayaknya 10 tahun yang akan datang sulit mencari wanita yang masih perawan atau laki-laki yang masih perjaka tulen. Nauzubillah….dunia sudah hampir kiamat!
Akibat lain dari Sex bebas yang dilakukan remaja dikhawatirkan akan memicu percepatan penyebaran HIV/AIDS dan IMS (Infeksi Menular Sexual) alias penyakit kelamin.

10 Faktor Daya Tarik Bandung

“Jangan pernah keluar rumah pada hari sabtu dan Minggu, kecuali siap kecewa”, kata kawan saya mengingatkan. Walaupun kalimat itu diucapkan sambil bercanda, tetapi bukan berarti tanpa alasan.
Ya, ada benarnya apa yang dikatakan kawan. Tengok saja setiap hari Sabtu dan Minggu, terlebih lagi hari libur panjang maka jalanan di Kota Bandung menjadi macet. Tentu saja tidak semua ruas jalan macet karena ada wilayah tertentu yang masih normal. Khusus untuk wilayah Bandung Utara pada hari Sabtu dan Minggu biasanya didominasi kendaraan bertanda B.
Lalu apa sebenarnya yang menarik dari Kota Bandung ini sehingga banyak dikunjungi wisatawan? Ada beberapa hal yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kota bandung, antara lain:

1. Nilai Historis. Sudah lama Kota Bandung dikenal sebagai Varijs Van Java atau Kota Kembang. Bahkan dunia Internasional mengenal Bandung sebagai Kota Asia –Afrika lewat Konferensi Asia-Afrika yang berhasil mendorong kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika. Para wisatawan mungkin merasa penasaran ingin mengenal lebih dekat bagaimana Kota Varijs Van Java atau Kota Kembang tersebut. Hal ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

2. Akses Tranportasi. Sarana transportasi sangat berpengaruh terhadap minat wisatawan untuk berkunjung ke Bandung. Tol Cipularang memberikan andil yang sangat besar terhadap warga Jakarta untuk datang ke Bandung. Jarak tempuh yang biasanya 5 jam menjadi 2 jam sungguh menjadi daya tarik tersendiri bagi warga ibukota untuk menikmati liburan di Bandung. Hal ini ditunjang pula dengan adanya jalan layang Pasopati yang mempermudah akses menuju kawasan Jl. Dago dan Riau. Bagi wisatawan mancanegara transportasi dipermudah dengan adanya Bandara Husein Sastranegara. Wisatawan asing yang paling banyak datang ke Bandung melalui Bandara Husein yaitu dari Malaysia dan brunai.

3. Udara Yang Sejuk. Walaupun Bandung tidak sesejuk tahun 80 an, tetapi orang dari luar kota khususnya dari jakarta tetap merasa bahwa Kota Bandung berhawa sejuk, apalagi jika musim hujan tiba. Kesejukan udara Bandung menjadi daya tarik bagi warga luar kota yang berudara lebih panas.

4. Wisata Alam. Karena letak geografis Bandung di atas pegunungan maka daya tarik alam menjadi salah satu tujuan wisata. Yang paling populer adalah kawasan Lembang dengan Tangkuban Perahunya. Dari sini juga wisatawan bisa langsung menuju Ciater dengan wisata air panas dan perkebunan teh yang sebenarnya termasuk wilayah Kabupaten Subang. Wisata alam kawasan Ciwidey Bandung Selatan juga sangat menarik wisatawan domestik.
5. Wisata Kuliner. Banyak wisatawan yang datang ke Bandung karena tertarik dengan beragamnya jenis makanan. Kreatifitas warga Bandung dalam menciptakan menu dan jenis makanan baru turut andil dalam mendatangkan wisatawan. Dari mulai makanan yang disajikan di restoran, rumah makan, cafe dan roda dorong dipinggir jalan. Wisatawan rata-rata menyatakan puas dengan jenis makanan yang tersedia dengan harga yang ”murah”.

6. Wisata Outlet. Saya perhatikan setiap hari Sabtu dan Minggu outlet yang ada di kawasan Jl.Riau selalu penuh sesak oleh wisatawan ibukota. Entah daya tarik apa warga ibukota senang ke outlet, karena orang Bandung sendiri kurang suka berbelanja di outlet.

7. Harga Murah. Barang-barang yang dijual di Bandung relatif lebih murah dibandingkan dengan Jakarta. Apalagi untuk harga makanan rata-rata wisatawan mengatakan murah. Wisatawan Malaysia biasa berbelanja di Pasar Baru dalam jumlah besar untuk dijual di negara asalnya.

8. Budaya. Bandung dengan kekayaan budaya sundanya sudah sangat dikenal bukan saja oleh masyarakat luar Jawa Barat, tetapi juga oleh wisatawan mancanegara. Jenis kesenian yang menarik keingintahuan pendatang antara lain seni wayang golek, angklung, kawih, tari jaipong, dan seni lainnya. Bandung juga dikenal sebagai gudangnya seniman musik modern. Banyak artis dan group Band terkenal berasal dari Bandung. Demikian juga budaya ramah orang Bandung dengan senyum sapanya menjadi daya tarik tersendiri. Tentang kermahtamahan ini jangan diukur secara kasuistis, tapi lihatlah secara umum walaupun harus diakui telah terjadi pergeseran nilai.

Delapan faktor yang saya uraikan di atas hanyalah berdasarkan penilaian pribadi, bukan berdasarkan hasil survey. Jadi kebenarannya tidak mutlak benar bahkan bisa saja salah. Saya menunggu Anda untuk melengkapi 2 faktor lagi hingga genap 10. Benar dan salah saya serahkan kepada pembaca. . Terima kasih atas sharingnya.