Monthly Archives: Juni 2009

Taman Ganesha

Taman Ganesha yang lokasinya tepat di depan Gerbang ITB dulunya bernama Ijzermanpark, yaitu diambil dari nama pendirinya Dr. Ir. J.W Ijzerman yang membangun taman ini pada tahun 1919.

Gambar Pintu Utama Kampus ITB diambil dari Taman Ganesha

Gambar Pintu Utama Kampus ITB diambil dari Taman Ganesha

 

Taman Ganesha yang letaknya persis di depan Kampus ITB serta bersebelahan dengan Masjid Salman, sangat strategis sebagai tempat melepas lelah, belajar atau ajang diskusi para mahasiswa.

Monumen Taman Ganesha terbuat dari baja anti karat

Monumen Taman Ganesha terbuat dari baja anti karat

Sebelum didirikan monumen baja ini dulunya di sini berdiri patung Ganesha. Sebelum berdiri patung Ganesha dulunya disini berdiri Patung Dada Dr. Ir. Ijzerman, yaitu pendiri taman Ganesha. Tidak jelas keberadaan patung dada yang sebenarnya memiliki nilai sejarah itu  sekarang ada dimana. Mungkinkah disimpan ITB ?
Relief sejarah berdirinya ITB dan Taman Ganesha

Relief sejarah berdirinya ITB dan Taman Ganesha

 

Relief Sejarah berdirinya ITB dan Taman Ganesha Relief yang menceriterakan proses berdirinya Technische Hogeshool – THS (sekarang Institut Teknologi Bandung-ITB). Tampak pada relief patung dada Ijzerman yang dulu sempat menghuni taman, tetapi akhirnya raib entah kemana.

Satu sudut taman

Satu sudut taman

Selain nyaman sebagai tempat istirahat dan belajar, taman ini juga sebagai tempat perlindungan beberapa species burung.  Hanya sayangnya akhir-akhir ini jumlah burung yang hidup di taman ganesha semakin berkurang.
Sepi kecuali Sabtu dan Minggu

Sepi kecuali Sabtu dan Minggu

 

Gambar ini diambil saat sepi pengunjung. Pada hari libur atau Sabtu dan Minggu Taman Ganesha ramai dipenuhi pengunjung. Mungkin hal ini yang menyebabkan burung menjadi tidak betah dan akhirnya mencari tempat baru yang lebih tenang.

Insulindepark (Taman lalu lintas)

 Pada tahun 1898 sebagian tanah kosong yang merupakan cikal bakal Insulindepark masih berbentuk rawa. Rawa itu kemudian dikeringkan dan dijadikan lapangan untuk kegiatan militer  (1915 -1919) dengan jajaran pepohonan disekelilingnya.  pada tahun 1920-an lapangan itu dijadikan sebagai “Taman Tropis”.
Insulindenpark (Taman lalulintas)Pada`tahun 1925 taman tropis ini kemudian diberi nama Insulindepark . Tahun 1935 Insulindepark telah memiliki 90 jenis tanaman keras dan bunga-bungaan. Pada tanggal 28 April 1950 nama Insulindepark diganti menjadi Taman Nusantara yang kemudian pada tanggal 1 Maret 1958 berubah nama lagi menjadi Taman Lalu Lintas.

 Taman Lalu Lintas merupakan sarana pendidikan informal untuk menanamkan etika berlalu lintas bagi anak-anak di Bandung, selain sebagai tempat berekreasi merupakan yang pertama di Indonesia. Nama taman ini  kemudian menjadi Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani untuk mengenang pahlawan cilik putrid putri almarhum Jenderal Bintang Lima (Purn) Abdul Haris Nasution. Ade`Irma Suryani meninggal tertembak dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) ketika para pemberontak mencoba menculik ayahnya (1965).

Gerbang Tmn Ade Irma Suryani Nasution Th. 2009

Gerbang Tmn Ade Irma Suryani Nasution Th. 2009

Pembentuk Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL), yang dikelola oleh Kepolisian Jawa Barat pada tahun 1958, merupakan upaya penanggulangan masalah kenakalan remaja yang mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Taman Lalu Lintas dibangun sebagai wadah perehabilitasian para remaja berandal di Bandung.

Ijzermanpark (Taman Ganeca)

Gagasan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Teknik pertama di Hindia Belanda muncul pada awal tahun 1917 dari sebuah yayasan swasta bernama Ijzermanpark (Ganeca)Koninklijk Instituut voor Hoger Technisch Onderwijs In Ned Indie, yang diketuai C.J.K van Aalst da kemudian digantikan J.W. Ijzerman, pegawai staats spoorwegen-SS (Jawatan Kereta Api Negara).Dr.Ir. J.w. Ijzerman berjasa besar dalam pendirian Technische Hogeshool – THS (sekarang Institut Teknologi Bandung-ITB), sehingga sebuah taman artistik dan tertata rapih yang dibangun di depan THS (1919), di Hooge Schoolweg (sekarang Jln. Ganesha), diberi nama Ijzermanpark (sekarang Taman Ganesha).

Sebuah patung dada Dr.Ir. J.W. Ijzerman berdiri dengan landasan tiang beton di pintu masuk utara taman. Patung Dr.Ir. J.W. Ijzerman itu masih berdiri megah pada tahun 1950-an. Namun tahun 1960-an patung Ijzerman telah digantikan dengan patung Ganesha di sana sekarang diletakan patung kontemporer terbuat dari baja tahan karat berbentuk rangka kubus. Entah dimana patung dada Ijzerman itu, apakah disimpan di ITB atau telah raib entah ke mana.

Oray-Orayan

oray-orayanPermainan ini dimainkan oleh beberapa anak perempuan maupun lelaki di lapangan terbuka. Para pemain saling memegang ujung baju bagian belakang teman di depannya untuk membentuk barisan panjang. Pemain terdepan berusaha menangkap pemain yang paling belakang yang akan menghindar, sehingga barisan bergerak meliuk-liuk seperti ular, tetapi barisan itu tidak boleh terputus. Sambil bermain, pemain melantunkan kawih :

Orany-orayan luar leor ka sawah..,
Tong ka sawah parena keur sedeng beukah
Orang-orayan luar leor ka kebon …,
Tong ka kebon aya barudak keur ngangon.

Mending ge mandi di leuwi rea nu mandi

Saha nu mandi, nu mandina pandeuri…

Permainan untuk interaksi dan sosialisasi

Permainan untuk interaksi dan sosialisasi

Bila anak yang paling belakang terpegang oleh anak di depan maka posisi barisnya berubah. Permaianan ini dimainkan hanya untuk mencari kesenangan. Permainan ini penuh dengan nilai-nilai belajar sosialisasi dan interaksi dan melatih anak untuk aktif dan kreatif.

Perepet Jengkol

Permainan “Perepet Jengkol” ini biasanya dimainkan ketika malam terang bulan. Dulu saat terang bulan  seperti ini anak-anak kampung keluar rumah untuk bermain di halaman.  Permainan ini dimainkan oleh 3 – 4 anak perempuan atau lelaki. Pemain

Lewat permainan ada proses belajar sosialisasi dan kerjasama

Lewat permainan ada proses belajar sosialisasi dan kerjasama

berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil bergerak berputar kea rah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang , yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih : Perepet jengkol jajahean.., Kadempet Kohkol jejeretean.. Lagu ini terus dinyanyikan berulang-ulang sampai anak-anak kelelahan atau ada anak yang terjatuh.
Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini. Jadi, jenis permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang pada saat terang bulan.

Pawidya 2009

Kota di Cekungan Bandung Akan Runtuh?

Ini berita yang tidak sedap didengar telinga, namun harus menjadi perhatian semua pihak. Menurut Mubiar Purwasasmita Ketua Dewan Pakar pada Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan tatar Sunda, bahwa kerusakan lingkungan di cekungan Bandung sudah sedemikian parah. Saking parahnya katanya ia berteori bahwa kota-kota yang ada di cekungan Bandung akan runtuh….masya Allah mudah-mudahan ini tidak terjadi.

Cekungan Bandung sekarang ini katanya telah diperlakukan secara sembarangan, antara lain sekarang ini banyak pabrik yang membakar batu bara. Hal ini sangat berbahaya karena asap pembakaran tersebut tidak bisa lari dari cekungan Bandung. Kandungan zat dari pembakaran batu bara 30 kali lebih berbahaya daripada karkon dioksida. 

Beralih fungsi jadi villa

Beralih fungsi jadi villa

Menurut Mubiar yang paling salah adalah perlakukan terhadap kawasan Bandung utara dari mulai Cimenyan sampai Cikole seluas 38.548,33 hektar. Mestinya kawasan itu dibiarkan hijau jangan beralih fungsi menjadi hutan vila dan apartemen mewah. Ia mengemukakan pula bahwa sekarang ini curah hujan yang semula 3.000 milimeter per tahun kini tinggal 2.100 milimeter. Suhu udara sebelumnya 27 derajat celsius kini mencapai 34 derajat celsius. Kadar debu melampaui ambang batas 120 ppm per meter kubik.

Biarkan undak-undakan ini menjadi hutan kembali

Biarkan undak-undakan ini menjadi hutan kembali

 Dia mengemukakan bahwa lereng dari Lembang ke Kota Bandung berbentuk undak-undakan seperti tangga. Jika setiap undakan dibiarkan tumbuh pohon maka akan terbentuk landaian. Ini akan mempermudah udara yang terjebak di cekungan Bandung menguap ke udara bebas. Hasilnya pencemaran udara berkurang dan udara Bandung akan menjadi sejuk. Untuk memulihkan lahan, katanya tidak perlu reboisasi. Biarkan saja lahan itu selama dua tiga tahun maka pepohonan akan tumbuh sendiri. Kembalikan infrastruktur alam seperti sungai, danau, dan gunung berfungsi seperti semula.

( Sumber: Kompas 16 Juni 2009)

Bisa tidak ya Bandung kembali hijau dan sejuk seperti dulu? Mestinya sih bisa…..tapi tergantung keseriusan Pemerintah dan kesadaran masyarakatnya.

Taman Maluku Kini

>[/caption]caption]

Saksi bisu MolukkenPark

Saksi bisu MolukkenPark

Suatu ketika katanya ada seorang turis asal Belanda sengaja datang ke Bandung hanya untuk melihat keelokan Taman Maluku. Orang Belanda muda ini mendengar keindahan taman ini dari ceritera orang tuanya yang dulu pernah tinggal di Bandung ketika zaman penjajahan Belanda.

Taman Maluku yang dulu disebut MolukkenPark demikian sangat indah menarik sebagai tempat bercengkrama orang-orang Belanda tempo doeloe. Dari ceritera itulah maka Belanda muda ini berangkat ke Bandung hanya untuk membuktikan kebenaran ceritera orang tuanya.
Setelah tiba di Bandung dan sampai ke tempat tujuan, betapa kecewanya sang turis Belanda ini…ia melihat taman yang diceriterakan orang tuanya yang katanya begitu indah dan asri ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Turis itu tidak melihat kolam taman yang airnya jernih….tidak nampak rerumputan yang hijau membentang. Yang dia lihat justru taman yang terbengkalai penuh sampah…dan di sekelilingnya penuh bangunan yang tidak terurus.

Satu sudut Tmn Maluku Th. 2009

Satu sudut Tmn Maluku Th. 2009

Dapat dibayangkan betapa kecewanya ia. Terlebih kecewanya adalah orang tuanya di negeri Belanda yang semula berharap dapat bernostalgia lewat ceritera anaknya, ternyata mendapatkan dunia yang hilang…..

Dari arah Jl. Ambon nampak kumuh

Dari arah Jl. Ambon nampak kumuh

Taman Maluku memang benar lain dulu lain sekarang… Rentang jarak antara zaman Belanda Th 30 an sampai sekarang Th 2009 jelas bukan waktu yang sebentar. Tidak mungkin kalau orang Belanda itu masih berangan-angan MolukkenPark masih seperti dulu. Perubahan pasti terjadi…. Hanya saja yang disesalkan Taman Maluku sekarang tidak terurus, banyak sampah, kumuh, dan saruekseuk. Tengok saja di bagian depan (Jl. Ambon) disitu ada TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara). Kotor dan bau…pasti namanya juga tempat sampah. Padahal TPS itu dekat sekali dengan lokasi Patung Pastur yang menjadi saksi sejarah. Wajar kalau turis Belanda itu merasa kecewa.
Pernah pula nama Taman Maluku menyandang predikat tamannya dunia esek-esek. Namun alhamdulillah sekarang tidak lagi…mudah-mudahan.

BACK TO NATURE

Wisata Outlet dan Kuliner Kawasan Jalan Riau

Riau1Salah satu tempat yang banyak dikunjungi wisatawan domestik, khususnya warga ibukota ialah kawasan Jalan R.E Martadinata atau dulu disebut Jalan Riau. Kawasan wisata jalan Riau ini jaraknya tidak jauh dari pusat kota dan dari kawasan wisata Jalan Dago, kawasan Jalan Merdeka dan kawasan Gedung Sate. Umumnya wisatawan yang datang dengan kendaraan pribadi, tapi ada juga rombongan dengan menggunakan Bus Wisata. Bagi wisatawan yang ingin melihat keramaian pasar kaget setiap hari Minggu, silahkan mampir ke kawasan Gasibu Gedung Sate. Di situ kita akan menyaksikan berbagai barang dijajakan. Tapi kita harus siap berdesak-desakan dengan pengunjung yang sangat padat.
Riau4Di kawasan Jalan Riau ini banyak terdapat outlet dan berbagai jajanan di sepanjang jalan atau di halaman outlet itu sendiri. Biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu kawasan ini dipenuhi kendaraan dari luar kota, terutama berplat nomor B. Dari kawasan ini wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan Dago, kawasan Gedung Sate atau menuju pusat kota.
Yang menarik dari kawasan ini ialah selain tempatnya tidak jauh dari pusat kota, juga penataan dan dekorasi outlet yang menarik,barang yang dijual berkualitas dan tersedia berbagai jajanan yang dapat memuaskan selera lidah.

Riau2Kawasan ini cocok bagi wisatawan yang bertujuan untuk belanja di outlet sekaligus menikmati jajanan dan makanan khas Bandung. Bahkan bagi wisatawan yang ingin menikmati hidangan makan malam di kawasan ini tersedia kafe yang khusus buka malam hari dengan menu menarik dan harga terjangkau.

Selain hari Sabtu dan Minggu atau hari libur besar, kawasan Jalan Riau ini relatif sepi kecuali lalulintas kendaraan warga Kota Bandung yang melakukan kegiatan rutin. Selamat berwisata…