Monthly Archives: September 2009

Melihat Bandung Dari Menara Masjid Agung

Bagi Anda yang kebetulan ke Bandung cobalah menyempatkan diri untuk naik ke menara Masjid Agung Bandung. Tinggi menara sekitar 99 meter melambangkan 99 nama-nama bagi Allah SWT (asmaul Husna). Dengan harga tiket sangat murah yakni Rp. 2000,-saja kita akan diantar dengan menggunakan lif hingga ke puncak. Dari ketinggian ini kita dapat melihat pemandangan Kota Bandung dengan jelas. Lebih asyik bila hari telah gelap karena kerlap kerlip Bandung semakin nampak indah.

Dua buah menara Masjid Agung Bandung

Dua buah menara Masjid Agung Bandung

Alun-alun dan sekitanya dilihat dari atas menara...wow...kereeeen..!!

Alun-alun dan sekitanya dilihat dari atas menara...wow...kereeeen..!!

Indahnya Gn. Tangkubanparahu dan Jl. Layang Pasopati

Indahnya Gn. Tangkubanparahu dan Jl. Layang Pasopati

Boleh nampang, yang terlarang itu melakukan perbuatan tak senonoh karena ini masih dalam lingkungan Masjid

Boleh nampang, yang terlarang itu melakukan perbuatan tak senonoh karena ini masih dalam lingkungan Masjid

Iklan

Tip Menghadapi Gempa

Segitiga Kehidupan Saat Terjadi Gempa
Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue Team International (ARTI)

Doug Copp

Doug Copp


Pengalaman

• Saya (Doug Copp) telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun.
• Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985.
• Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat.

Percobaan

• Kami meruntuhkan sebuah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10 boneka “menunduk dan berlindung” dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup “segitiga kehidupan”.
• Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya “segitiga kehidupan” bertahan hidup 100%.
• Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin.

Fakta

• Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985.
• Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing.
• Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong.
• Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu.

Segitiga kehidupan

Segitiga kehidupan

Teori segitiga kehidupan

• Secara sederhana, saat bangunan runtuh, langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furniture sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.
• Ruangan kosong ini lah yang saya sebut “segitiga kehidupan”.
• Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk.
• Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.

Amati

Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah “segitiga kehidupan” yang anda temui. Segitiga ini ada di mana-mana dan merupakan bentuk yang umum.

Cara yang salah

Cara yang salah

Sepuluh Tip dalam Keselamatan Gempa Bumi

1. Hampir semua orang yang hanya “menunduk dan berlindung” pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk badannya.
2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa.
Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup
dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping
sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan
kosong di sebelahnya

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk.
Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping.
Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

Cara yang benar

Cara yang benar

4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur.
Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur.
Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal.
Mengapa?
Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya.
Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya.
Dalam kedua kasus tersebut, anda
tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga.
Tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama).
Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut.
Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya.
Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan.
Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya.
Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz.
Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka sampai meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka.
Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat.
Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Sebarkan informasi ini dan selamatkan nyawa orang yang anda cintai.

Sumber : Kangsa Sasmita

Gedung Sate Bandung

Tahun 70 an ketika saya masih kecil, saat waktu imsak tiba di bulan Ramadhan  ditandai dengan suara sirine yang melengking keras dan panjang. Suara sirine itu akan terdengar sampai radius 10 KM dari sumber suara. Tetapi sekarang tidak ada lagi suara sirine yang  memberitahukan tibanya waktu imsak, semua tinggal kenangan. Lalu darimanakah suara sirine itu berasal? Oh…sirine itu berasal dari Gedung Sate Bandung yang sampai sekarang masih beridiri kokoh, megah dan anggun.

Gedung Sate Landmarknya Kota Bandung

Gedung Sate Landmarknya Kota Bandung

Saya masih ingat, dulu orang –orang menyebut gedung sate ini dengan HeBe. Mungkin maksudnya GB yang artinya Gouvernemens Bedrijven yaitu nama Gedung Sate pada zaman Hindia Belanda.  Ya, Gedung Sate yang telah menjadi salah satu ikon atau landmarknya Kota Bandung bahkan Jawa Barat ternyata sarat dengan nilai sejarah perjuangan. Gedung itu seolah ingin menceriterakan kembali kebesaran dan kesombongan kolonialisme Belanda di Indonesia. Namun saya tidak bermaksud membuka kenangan pahit saat penjajahan, melainkan ingin mengajak untuk menikmati keindahan dan keanggunan arsitektur Ciptaan manusia.

Gedung ini dirancang oleh sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber, Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks, serta pihak Gemeente ( Walikota) Van Bandoeng dengan ketuanya Kol.Pur. VL. Slors. Proses pembangunan melibatkan 2000 orang pekerja diantaranya 150 orang pemahat batu dan pengukir kayu dari Konghu atau Kanton Cina. Sementara tukang bangunan yang dipekerjakan Sebelumnya telah berpengalaman membangun Gedong Sirap (ITB) dan Gedong Papak (Balai Pakuan Bandung?). Para pekerja bangunan, tukang batu, kuli aduk dan peladen berasal dari penduduk kampung Sekeloa, Coblong Dago, Gandok dan Cibarengkok. Hanya saja belum jelas apakah para pekerja khusunya para kuli bangunan tersebut mendapat upah atau kerja paksa?

Gd. Sate 1924

Gd. Sate 1924

Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 Juli 1920 oleh Johanna Catherina Coops, yaitu putri sulung B. Coops (Walikota Bandung) dan Petronella Roelefsen mewakili Gubernur Jendral di Batavia J.P Graaf Van Limburg Stirum. Proses pembangunan berlangsung selama 4 tahun yakni hingga selesai sampai September 1924.

Ir. J.Gerber,dkk berhasil memadukan gaya arsitektur Eropa dan Asia atau perpaduan Timur dan Barat. Untuk bangunannya Gerber mengambil gaya Rennaisance Italia, sedangkan untuk jendela ia mengambil gaya Moor Spanyol. Khusus untuk menara ia mengambil arsitektur Asia khusunya gaya pura Bali atau Pagoda Thailand. Di atas menara terdapat satu tusuk sate dengan 6 buah ornamen sate yang melambangkan 6 juta gulden biaya yang dihabiskan untuk pembangunan gedung ini.

Gedung Sate berdiri di atas lahan seluas 27.990,856 M2, sedangkan luas bangunan 10.877,734 M2 terdiri dari Basemen 3.039,859 M2, lantai I 4.062,553 M2, teras lantai I 212,976 M2, lantai II 3.023,796 M2, teras lantai II 212,976 M2, menara 121 M2 dan teras menara 205,169 M2. Kekuatan gedung ini terletak pada bahan yang dipakai serta teknis konstruksi konvensional profesional. Dinding bangunan terbuat dari batu berukuran 1 X 1 X 2 M, berasal dari kawasan perbukitan batu di Bandung Timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang.

Melihat keanggunannya maka tak heran  jika para kalangan arsitek menyatakan bahwa Gedung Sate adalah bangunan monumental yang unik dengan gaya arsitektur Indo-Europa ( Indo Europeeschen architectuur stijl).

Gedung Sate yang dibangun menghadap langsung Gunung Tangkuban Perahu, semula dipersiapkan sebagai pusat kegiatan pemerintahan kolonial Belanda setelah Batavia dianggap tidak memenuhi syarat lagi sebagai pusat pemerintahan.

Sesaat setelah kemerdekaan terjadi peristiwa heroik, yakni tepatnya tanggal 3 Desember 1945 tujuh orang pemuda gugur dalam mempertahankan gedung ini dari serangan tentara Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda ini maka dibangunlah tugu peringatan yang diletakan di belakang gedung. Kemudian atas perintah Menteri PU maka pada tanggal 3 Desember 1970 tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan gedung.

Suasana Minggu pagi (Sumber: Kabbandung.com)

Suasana Minggu pagi (Sumber: Kabbandung.com)

Gedung Sate juga pernah menjadi Kantor PTT ( Pos, Telekomunikasi dan Telegraf), tetapi  sejak tahun 1980 gedung ini menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang sebelumnya menempati Gedung Kertamukti di Jl. Braga.

Sekarang tahun 2009 Gedung Sate tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun asing. Tetapi suasananya akan berubah  setiap  Minggu pagi, karena lapangan Gasibu termasuk Jalan Diponegoro berubah menjadi pasar rakyat yang sangat ramai.

Sejarah Berdirinya Kota Bandung

Tulisan ini untuk melengkapi tulisan sebelumnya yaitu “ Sejarah Kota Bandung”.  Tulisan ini saya ramu dari berbagai sumber baik cetak maupun internet. Perlu saya sampaikan bahwa  tulisan ini sekedar untuk menambah wawasan khususnya bagi pemula yang ingin mengetahui sepintas sejarah berdirinya Kota Bandung.                                    Asal kata ”bandung” ada yang berpendapat berasal dari kata ”bandeng”. Dalam Bahasa Sunda, ngabandeng berarti genangan air yang luas dan nampak tenang, namun terkesan menyeramkan. Dari kata bandeng ini berubah bunyi menjadi ” bandung”.                                                                           Asal kata bandung ini nampaknya berkaitan dengan peristiwa terbendungnya aliran sungai Citarum purba di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa holosen ( + 60.000 Gn Meletustahun ? yang lalu). Akibatnya daerah antara Padalarang sampai Cicalengka sepanjang + 30 Km, dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang  + 50 Km terendam air menjadi danau besar yang kemudian disebut Danau Bandung Purba.  Menurut penelitian arkeologi danau ini mulai surut secara beangsur-angsur pada masa neolitikum + 8000 – 7000 SM.

Secara historis, nama Bandung mulai dikenal sejak berdirinya pemerintahan Kabupaten Bandung sekitar abad ke 17. Sebelum Kabupaten Bandung berdiri wilayah ini disebut ”Tatar Ukur” yang wilayahnya mencakup sebagian besar Jawa Barat di bawah dominasi kerajaan Pajajaran.  Sekitar Tahun 1579/1580 Kerajaan Sunda Pajajaran runtuh akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan Islam di daerah Jawa Barat. Setelah Pajajaran runtuh maka Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedang Larang yang diperintah oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608).

Tahun 1620 Kerajaan Sumedang Larang menjadi wilayah kekuasaan Mataram di bawah Sultan Agung.  Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur ( Bupati Wedana Priangan) untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Dipati Ukur gagal melaksanakan tugas ini dan akhirnya ia melakukan pemberontakan terhadap Sultan Agung.

Tahun 1632 Sultan Agung dapat memadamkan pemberontakan Dipati Ukur setelah mendapat bantuan dari 3 orang dari Priangan.  Atas jasa-jasanya turut menumpas pemberontakan Dipati Ukur maka ketiga orang tersebut  oleh Sultan Agung diangkat menjadi Kepala Daerah, yaitu: Ki Astamanggala diangkat menjadi Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya menjadi Bupati Parakanmuncang, dan Ngabehi Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura. Ketiga orang ini dilantik berdasarkan Piagam Sultan Agung pada ping songo tahun Alif bulan Muharan  atau  bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 20 April Tahun 1641.

Kabupaten Bandung berada di bawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun 1677 karena setelah itu Bandung dibawah kekuasaan Kompeni Belanda (1677 – 1799). Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC tahun 1799 , Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (Dayeuh Kolot).  Setelah kekuasaan Kompeni berakhir, kekuasaan di Nusantara diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan Gubernur Jendralnya yang pertama yaitu  Herman Willem Daendels (1808-1811).

Menurut naskah Sajarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah utara Kota Bandung.  Salah satu alasan kepindahannya yaitu wilayah Karapyak sering dilanda banjir Citarum. Semula Bupati tinggal

Makam R.A Wiranata Kusumah II pendiri Bandung,di Jalan Dalem Kaum Bandung

Makam R.A Wiranata Kusumah II pendiri Bandung,di Jalan Dalem Kaum Bandung

di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir. Ketika Daendels meresmikan pembangunan jembatan Cikapundung di Jl. Asia afrika sekarang, Bupati Bandungpun berada di sana. Daendels beserta Bupati berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan kantor Dinas P.U Jl. AA sekarang). Di tempat itu Daendels menancapkan tongkatnya sambil berkata:”Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd!” (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini, sebuah kota telah dibangun ). Sebagai tindak lanjut ucapannya Daendels mengeluarkan surat tertanggal 25 Mei 1810 yang isinya memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos.

Pindahnya Kabupaten Bandung ke Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (SK) tanggal 25 September 1810. Maka tanggal ini secara yuridis formal ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Tahun 1906 kota Bandung sebagai ibukota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gemeente (kotapraja) yang berpemerintahan otonom.

Komplek Situs makam Para Bupati Bandung Tempo Doeloe dan Makam Ibu Rd. Dewi Sartika(Jl. Karang Anyar Bandung)

Komplek Situs makam Para Bupati Bandung Tempo Doeloe dan Makam Ibu Rd. Dewi Sartika

Maka sejak itu pemerintahan Kabupaten Bandung terpisah dengan pemerintahan Gemeente Bandung (Kotapraja Bandung). Ketetapan itu semakin memperkuat fungsi Kota bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama pemerintahan kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung dipimpin oleh Asisten Residen Priangan selaku Ketua Dewan Kota, tetapi sejak tahun 1933 Gemeente dipimpin oleh burgemeester (walikota).

  • Di sini dimakamkan para Bupati Bandung tempo doeloe dan Ibu Rd. Dewi Sartika                   Makam para Bupati Bandung tempo doeloe Keturunan RA. Wiranata Kusumah II dan Ibu Rd. Dewi Sartika(Jl. Karang Anyar Bandung).  Menurut berbagai sumber pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat dibawah pimpinan Bupati R.A Wiranatakusumah II. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa Bupati R.A Wiranatakusumah II adalah pendiri ( the founding father) Kota Bandung.                                                                                         Berikut adalah orang-orang yang pernah menjabat Bupati Bandung .
  1. Tumenggung Wiraangunangun (1641 – 1681 ) :  angkatan Mataram.
  2. Tumenggung Nyili (1681), tidak lama karena  mengikuti  Sultan Banten.
  3. Tumenggung Ardikusumah (1681 – 1704)  :  angkatan Kompeni.
  4.  Tumenggung Anggadireja I    (1704 – 1747)
  5.  Tumenggung Anggadireja II         (1747_1763)
  6. R. Anggadireja III dengan gelar R.A Wiranatakusumah I (1763 – 1794)
  7.  R.A Wiranatakusumah II ( 1794 – 1829) :  kolonial  Belanda.
  8.   8. R.A Wiranatakusumah III (1829 – 1846)
  9.  R.A Wiranatakusumah IV (1846 – 1874)
  10.  R. Adipati Kusumahdilaga (1874-18930
  11. RAA. Martanegara (1893           –1918)

Gemente ( Kotapraja) Bandung

  1. E.A Maurenbrecher (exofficio)  (1906 – 1907)
  2.  R.E Krijboom (exofficio)              (1907 – 1908)
  3.  J.A. Van Der Ent (exofficio)        (1909 – 1910)
  4.  J.J. Verwijk (ecofficio)                  (1910 – 1912)
  5.  C.C.B Van Vlenier dan                   (1912 – 1913)
  6.  B.Van  Bijveld (exofficio)              (1913 – 1920)
  7.  B. Coops                                              (1920 – 1921)
  8.  S.A Reitsma                                       (1921 – 1928)
  9.  B. Coops                                                (1928 – 1934)
  10.  Ir. J.E.A. Van Volsogen Kuhr     (1934 – 1936)
  11.  Mr. J.M. Wesselink                        (1936 – 1942)
  12.  N. Beets                                               (1942 – 1945)
  13.  R.A Atmadinata                              (1945 – 1946)
  14.  R. Siamsurizal
  15.  Ir. Ukar Bratakusumah               (1946 – 1949)
  16.  R. Enoch                                            (1949 – 1956)
  17. R. Priatna Kusumah                      (1956 – 1966)
  18. R. Didi Jukardi                                (1966 – 1968)
  19. Hidayat Sukarmadijaya               (1968 – 1971)
  20. R. Otje Djundjunan                         (1971 – 1976)
  21.  H. Ucu Junaedi                               (1976 – 1978)
  22.  R. Husein Wangsaatmaja             (1978 – 1983)
  23.  H. Ateng Wahyudi                          (1983 – 1993)
  24.  Wahyu Hamijaya                             (1993 – 1998)
  25.  Aa Tarmana                                      (1998 – 2003)
  26. H. Dada Rosada                         (2003 – sekarang)                                          Sumber: A. Sobana Hardjasaputra, Web site Kota Bandung , web site Kabupaten Bandung serta   sumber lainnya.